PEKANBARU – Allnewsterkini. Com | Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Erisman Yahya, mengimbau seluruh sekolah di Provinsi Riau untuk tidak melaksanakan kegiatan perpisahan di luar lingkungan sekolah, seperti di hotel atau tempat-tempat mewah.
Hal ini disampaikan Erisman usai menghadiri acara pelepasan siswa kelas XII SMA Plus, Senin (13/4/2026).
Ia menegaskan bahwa Dinas Pendidikan telah memberikan arahan kepada seluruh satuan pendidikan terkait konsep pelaksanaan perpisahan yang sesuai, agar tidak berlebihan dan tetap memperhatikan kondisi saat ini.
“Kami sudah menyampaikan kepada sekolah-sekolah bagaimana seharusnya kegiatan perpisahan dilaksanakan. Kami tidak ingin ada kegiatan yang berlebihan, apalagi sampai terkesan mewah atau tidak sesuai dengan kondisi saat ini,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena perpisahan yang dilakukan secara berlebihan bahkan cenderung tidak terkontrol harus menjadi perhatian bersama.
“Kita tidak ingin ada perpisahan yang dilaksanakan secara berlebihan, bahkan sampai di luar batas kewajaran. Apalagi kalau dilakukan di hotel atau tempat-tempat mewah, sementara kondisi saat ini menuntut efisiensi,” jelasnya.
Erisman menekankan bahwa sekolah tetap diperbolehkan menggelar kegiatan perpisahan, namun harus dilaksanakan secara sederhana dan sebaiknya di lingkungan sekolah masing-masing.
“Silakan perpisahan dilaksanakan, tetapi cukup di sekolah masing-masing. Yang penting sederhana, tidak memberatkan orang tua, dan tidak ada pungutan yang bersifat wajib,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar kegiatan perpisahan tetap memiliki nilai dan kesan yang mendalam bagi para siswa, tanpa harus mengedepankan kemewahan.
“Walaupun sederhana, yang penting berkesan dan menjadi kenangan baik bagi siswa-siswi,” tambahnya.
Terkait Penerimaan Siswa Baru
Dalam kesempatan tersebut, Erisman juga menyinggung terkait daya tampung penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027.
Ia menyebutkan bahwa secara umum daya tampung sekolah negeri di Riau sebenarnya sudah mencukupi, bahkan melebihi kebutuhan.
“Kalau melihat data, daya tampung sekolah negeri kita sebenarnya sudah cukup. Bahkan masih ada ruang sekitar 12 persen yang bisa diisi oleh sekolah swasta,” ungkapnya.
Menurutnya, persoalan yang sering muncul bukan pada kekurangan kuota, melainkan persepsi masyarakat yang cenderung ingin masuk ke sekolah tertentu saja.
“Masalahnya lebih kepada persepsi. Semua ingin masuk ke sekolah yang sama, padahal secara keseluruhan daya tampung itu mencukupi,” jelasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk lebih terbuka dalam memilih sekolah, baik negeri maupun swasta, demi pemerataan pendidikan.
“Yang penting anak-anak tetap bisa melanjutkan pendidikan. Tidak harus selalu di sekolah tertentu saja,” tutupnya.







Komentar