Pekanbaru – Allnewsterkini. Com | Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) terus berkomitmen menghadirkan ruang diskusi yang edukatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan teknologi digital. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Serial Bincang Literasi #38 bertajuk “Sosial Media dan Jerat Love Scam”, pada Kamis (16/7/2026), dengan menghadirkan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Umri, Jayus, SSos MIKom., sebagai narasumber utama.
Kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 100 mahasiswa beserta sejumlah dosen dari berbagai fakultas di lingkungan Umri ini bertujuan meningkatkan pemahaman sivitas akademika mengenai ancaman penipuan digital yang semakin berkembang seiring pesatnya pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Dalam pemaparannya, Jayus menjelaskan bahwa media sosial telah mengubah cara manusia membangun hubungan dan berinteraksi. Jika dahulu relasi lebih banyak terjalin melalui pertemuan langsung, kini kedekatan dapat dibangun hanya melalui akun media sosial. Perubahan pola komunikasi tersebut dimanfaatkan oleh pelaku love scam untuk membangun kepercayaan sebelum akhirnya melancarkan aksi penipuan.
“Love scam tidak dimulai dengan permintaan uang, tetapi diawali dengan membangun rasa percaya. Pelaku memahami bagaimana komunikasi dapat memengaruhi emosi seseorang. Ketika hubungan emosional sudah terbentuk, korban akan lebih mudah mempercayai apa pun yang disampaikan pelaku,” ujar Jayus.
Ia menambahkan bahwa perkembangan AI membuat modus penipuan digital semakin sulit dikenali. Jika sebelumnya pelaku hanya memanfaatkan foto hasil curian dari internet, kini mereka mampu menghasilkan wajah yang realistis, meniru suara seseorang (voice cloning), hingga membuat video palsu (deepfake) yang tampak meyakinkan.
“Artificial Intelligence membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun, di sisi lain AI juga membuka peluang yang lebih besar bagi pelaku kejahatan digital. Kini foto, suara, bahkan video dapat direkayasa sehingga identitas seseorang semakin sulit diverifikasi. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya melek teknologi, tetapi juga harus memiliki literasi digital dan kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terjebak dalam manipulasi di media sosial,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala UPT Perpustakaan Umri, Dwi Hastuti, SE MM., mengatakan bahwa Serial Bincang Literasi merupakan salah satu program yang secara konsisten diselenggarakan untuk menghadirkan tema-tema aktual sekaligus memperkuat budaya literasi di lingkungan kampus.
Menurutnya, literasi pada era digital tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, memverifikasi, serta menggunakan informasi secara bijak dan bertanggung jawab.
“Literasi di era digital tidak lagi hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, memverifikasi, serta menggunakan informasi secara bijak dan bertanggung jawab. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa agar lebih kritis dalam menghadapi berbagai tantangan di ruang digital,” ujarnya.
Kegiatan yang dipandu Refnil Dalita, SPd., sebagai moderator, dan Kartika Puspita Sari, SIP MA., sebagai User Education tersebut berlangsung interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang disampaikan mengenai perkembangan modus love scam, pemanfaatan AI dalam kejahatan siber, hingga cara mengenali identitas palsu di media sosial.
Melalui Serial Bincang Literasi #38, UPT Perpustakaan Umri berharap mahasiswa semakin memiliki kesadaran dan kecakapan literasi digital sehingga mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Umri dalam membekali sivitas akademika dengan kemampuan menghadapi berbagai tantangan komunikasi serta ancaman kejahatan siber di era kecerdasan buatan. (rl)







Komentar